RSS

Penguasaan Kitab Kuning di Pesantren Salaf

26 Okt

Studi pada Madrasah salafiyah PP Assalafiyah Mlangi, Sleman dan PP Al Munawwir Krapyak Bantul

Daerah Istimewa Yogyakarta

Diseminarkan pada Bulan September 2011 di Kusuma Sahid Prince Hotel Surakarta


PENDAHULUAN

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang umumnya bersifat tradisional, yang pada mulanya tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan, melalui suatu proses sosial yang unik. Pesantren dipengaruhi dan mempengaruhi kehidupan masyarakat pedesaan, bahkan pengaruh pesantren seringkali jauh melebihi wilayah administratif desa-desa sekitarnya, tidak jarang pula suatu pesantren yang mempunyai santri relatif besar, pengaruhnya melintasi kabupaten di mana pesantren itu berada (Saifuddin, 1998: 185).

Dinamika pengembangan pondok pesantren tampak dari model pengembangan yang tetap mempertahankan prinsip awal pendiriannya, yaitu pengkajian dan pengembangan kitab kuning, baik pada pesantren salafiyah maupun kholafiyah. Ketetapan pada kitab kuning ini menjadikan pondok pesantren memiliki kekhasan tersendiri, hal ini ditambah dengan penekanan kitab kuning yang dipelajari oleh pesantren, seperti pesantren khusus atau kuat dengan kajian fiqih, kajian aqidah, kajian tafsir, dan kajian tasauf.

Saat ini dikalangan pondok pesantren sedang mengalami dilema. Disatu sisi mereka ingin diakui dan disamakan eksistensi mereka setara dengan pendidikan formal namun disisi lain hal tersebut sulit dilakukan oleh pemerintah melihat kurikulum yang belum standar antara pondok pesantren satu dengan yang lain berbeda di seluruh wilayah Indonesia.

Pengakuan kesetaraan terhadap lulusan pondok pesantren dan pendidikan diniyah diringi dengan ketetapan standar dalam berbagai aspek yang harus dipenuhi. Standar yang ditetapkan untuk menentukan tingkatan kelulusan, baik tingkat dasar, menengah pertama maupun tingkat menengah atas sangat tergantung pada standar kitab kuning yang telah dikuasai pada tingkatan tersebut, meskipun jangka waktu selama belajar di pondok pesantren menjadi persaratan yang juga menjadi ketetapan.

Pesantren yang memiliki kajian –kajian khusus terhadap kitab-kitab tertentu, secara otomatis memiliki standar kitab kuning  yang menjadi rujukan pesantren tersebut, dan sangat mungkin sekali berbeda antara pesantren satu dengan pesantren yang lain.Standar kitab kuning inilah menjadi sangat penting, baik untuk lingkungan pondok pesantren itu sendiri maupun untuk lintas pondok pesantren.Bahkan kesamaan maupun perbedaan kajian kitab kuning yang menjadi standar oleh beberapa pesantren menjadi varian tersendiri yang akan memperkaya khasanah keilmuan santri sekaligus menjadi sebuah alternatif ketika santri akan memperdalam kajian kitab kuning.

Selain stantardisasi kajian kitab kuning yang menjadi ciri khas pondok pesantren, juga penguasaan kitab kuning sebagai sebagai kajian yang khas, memunculkan standardisasi bagi tingkat dalam proses pembelajaran pada pondok pesantren itu sendiri, seperti tingkatan ula, wustho,maupun ulya, atau bahkan pada tingkat Ma’had ‘Ali. Tingkatan kitab kuning yang dipelajari, untuk menetukan tingkatan kelas atau tingkatan madrasah. Meskipun demikian pengkajian kitab kuning tetap saja bergantung pada kyai dan ustad yang mengajarnya (Masyhuri, 1989), sehingga standardisasi kitab kuning memerlukan kajian yang lebih mendalam.

Berangkat dari latarbelakang masalah tersebut di atas itulah perlu adanya kajian yang lebih fokus dan mendalam tentang bagaimana sebenarnya standar kitab kuning yang dipakai oleh pondok pesantren salaf. Pengakuan kesetaraan terhadap lulusan pondok pesantren dan pendidikan diniyah, diiringi dengan ketetapan standar dalam berbagai aspek yang harus dipenuhi. Standar yang ditetapkan untuk menentukan tingkatan kelulusan, baik tingkat dasar, tingkat menengah pertama maupun tingkat menengah atas sangat tergantung pada kitab kuning yang telah dikuasai pada tingkatan tersebut, meskipun waktu belajar di pondok pesatren menjadi persyaratan juga.

PERMASALAHAN

Rumusan masalah yang menjadi fokus kajian pada penelitian ini adalah

  1. Kitab kuning apa sajakah yang menjadi rujukan, atau yang dipelajari di pondok pesantren?
  2. Standar apa yang dipakai  oleh pondok pesantren dalam menentukan kitab kuning yang dipelajari?
  3. Bagaimana pondok pesantren menentukan standar kitab kuning pada setiap jenjang kelas?
  4. Apa orientasi pondok pesantren dalam pembelajaran kitab kuning ?
  5. Bagaimana standar penguasaan kitab kuning yang diberlakukan oleh pondok pesantren

 

TUJUAN PENELITIAN

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan standar kitab kuning yang dijadikan rujukan Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Sleman. Secara operasional penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengetahui kitab kuning yang jadi rujukan, atau yang dipelajari di Pondok Pesantren Assalafiah.
  2. Mengetahui standar yang ditetapkan oleh pondok pesantren dalam menentukan kitab kuning yang dipelajari.
  3. Mengetahui  cara menetapkan standar kitab kuning dalam setiap jenjang.
  4. Mengetahui oreintasi pondok pesantren dalam pembelajaran kitab kuning
  5. Mengetahui standar penguasaan kitab kuning

MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan oleh pemerintah, cq Kementerian RI terkait dengan standardisasi kitab kuning di pondok pesantren. Manfaat lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan bagi pondok pesantren yang menjadi sasaran penelitian dan pondok pesantren pada umumnya yang tetap konsisten mempertahankan tradisi kajian kitab kuning.

Batasan Penelitian

Batasan penelitian berkenaan dengan penelitian standardisasi kitab kuning adalah ;

1. Pondok pesantren yang menjadi sasaran penelitian pondok pesantren salaf yang konsisten mengajarkan kitab kuning, dan pondok pesantren tersebut tidak mengembangkan pendidikan formal.

2. Kitab kuning yang yang menjadi fokus penelitian adalah kitab kuning yang biasa diajarkan di pondok pesantren salaf.

METODE PENELITIAN

Penelitian tentang penguasaan kitab kuning di pesantren Studi Standardisasi Kitab Kuning pada Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Bantul dan ponpes Assalafiyah Mlangi Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus.

Sasaran penelitian ini pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan salaf murni. Yang dimaksud pondokpesantren salaf murni adalah pondok pesantren yang murni melaksanakan pengajaran kitab kuning (salaf) tanpa ada penambahan kurikulum yang di rekomendasikan oleh pemerintah.

Adapun yang menjadi subyek penelitian tentang penguasaan kitab kuning di pondok pesantren adalah madrasah salafiyah yang berada dibawah naungan pondok pesantren. Penguasaan kitab kuning tersebut meliputi kitab kuning yang menjadi rujukan di pondok pesantren, kurikulum madrasah, dan standarisasi pondok berdasarkan level kelas dilihat dari pendidikan formal pemerintah.

Adapun teknik pengumpulan dilakukan dengan berbagai cara. Tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, telaah dokumen, dan pengamatan.

Analisis yang digunakan adalah model analisis data interaksi (Staruss 2007:100). Yaitu menghubungkan antara kategori dengan sub kategori untuk kemudian dicari pola-polanya. Adapun langkah langkah yang digunakan dalam analisis ini adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi data (Sugiyono:2005:92).

TEMUAN PENELITIAN

-   Program Pendidikan di PP Assalafiyah dan PP Al Munawwir

Syarat menjadi santri pada PP Assalafiyah adalah pertama usia minimal 10 tahun dan harus menempuh sekolah persiapan selama 1 tahun pada marhalah i’dadiyah. Sedangkan pada PP al Munawwir syarat utama menjadi santri adalah mengikuti placement test untuk mengetahui sejauhmana pengetahuan calon santri dalam bidang bahasa, maupun pengetahuan tentang kitab kuning. Jika belum memenuhi persyaratan pada jenjang pertama maka santri akan ditempatkan pada kelas persiapan yang disebut halqoh i’dadiyah.

-   PP Assalafiyah

Program pendidikan pada PP Assalafiyah menggunakan istilah Marhalah untuk menunjukan jenjang pendidikan. Ada 3 jenjang marhalah di PP Assalafiyah yaitu Marhalah Ula, wustho, dan Ulya.  Masing-masing marhalah memiliki watu tempuh sebagai berikut.

Pertama, Marhalah ula membutuhkan waktu tiga tahun yaitu sannah ula, ula sanah tsaniyah, ula sanah tsalisa. Masing-masing tingkatan terbagi dalam dua semester.

Kedua, Marhalah wustho terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu wustho sanah ula, sanah tsaniyah, dan tsanah tsalisa. Masing-masing tingkatan terbagi menjadi dua semester.

Ketiga, Marhalah ulya, merupakan tingkatan spesialisasi atau tahasus. Pada marhalah ini santri diberikan pilihan untuk memilih spesialisasi yang diminatinya antara lain tahassus ilmu alat, tahasus ilmu alQuran, tahasus fiqh. Masing-masing tahasus memiliki jangka tempuh belajar selama satu tahun yang terbagi dalam dua semester.

 -    PP Al Munawwir

Di atas telah disebutkan bahwa jenjang pendidikan pada madrasah salafiyah PP al Munawwir disebut dengan istilah Halqoh. Ada empat halqoh yang ada di PP Al Munawwir yaitu halqoh I’dadiyah, halqoh Ula, halqoh tsaniyah, dan halqoh tsalisah.

Halqoh I’dadiyah merupakan sekolah persiapan sebelum menempuh pendidikan yang sebenarnya. Calon santri yang masuk pada madrasah salafiyah PP al munawwir harus mengikuti placement test untuk menyaring santri-santri yang langsung bisa menempuh pendidikan pada halqoh ula atau harus dipersiapkan dahulu pada halqoh i’dadiyah. Waktu tempuh belajar pada halqoh i’dadiyah adalah satu tahun atau dua semester.

Halqoh ula merupakan jenjang pendidikan tingkat pertama. Jarak tempuh belajar pada halqoh ini adalah satu tahun yang terdiri dari dua semester.

Halqoh tsaniyah merupakan jenjang pendidikan tingkat dua setelah halqoh ula. Waktu tempuh belajar pada halqoh ini adalah satu tahun yang terdiri atas dua semester.

Halqoh tsalisah merupakan jenjang pendidikan ketiga setelah halqoh ula, dan tsaniyah. Waktu tempuh belajar pada halqoh ini adalah satu tahun yang terbagi dalam dua semester.

Kitab Kuning Yang dijadikan Rujukan

Jika dilihat pada tingkatan dan lama waktu tempuh belajar antara PP Assalafiyah dan PP Almunawwir terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan pertama adalah pada marhalah ula (PP Assalafiyah) menurut penafsiran institussi (lembaga pondok pesantren Aasalafiyah) adalah termasuk pada tingkatan atau kategori madrasah ibtidaiyah. Sedangkan marhalah wustho dan ulya masuk dalam kategori level Tsanawiyah dan aliyah.

Pada pondok pesantren Al Munawwir Krapyak tidak melaksanakan pendidikan pada tingkat ibtidaiyah melainkan langsung pada tingkat tsanawiyah yaitu pada halqoh Ula, tsaniyah dan tsalisa. Sedangkan halqoh i’dadiyah adalah tingkat persiapan yang dikhususkan pada santri yang belum memenuhi syarat menempuh pendidikan pada halqoh ula.

Berikut ini akan disajikan kitab kuning yang menjadi rujukan pada dua buah pondok pesantren tersebut sebagai gambaran mengenai kurikulum kitab yang diajarkan pada pondok pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta.

-   Sekolah Persiapan (Idadiyah)

Sebelum memasuki jenjang pendidikan yang sesungguhnya, dua buah pesantren yang di teliti terdapat jenjang pra sekolah atau dalam istilah pesantren disebut dengan tingkat i’dadiyah. Pada PP Assalafiyah tigkat persiapan disbetu dengan marhalah i’dadiyah dan pada PP al Munawwir disebut dengan Hlqoh I’dadiyah.

Marhalah i’dadiyah yang berlaku di PP Assalafiyah adalah mempersiapakan para santri agar mudah mengikuti mata pengajian (pelajaran) pada tingkat marhalah ula. Marhalah ula pada PP assalafiyah dimasukan pada level pendidikan tingkat ibtidaiyah.

Sedangkan halqoh i’dadiyah pada PP al Munawwir dipersiapkan untuk para santri agar mudah mengikuti pelajaran pada halqoh –halqoh yang terdapa di PP tersebut. Halqoh-halqoh yang ada di PP al Munawwir oleh institusi pesantren tersebut dimasukan dalam kategori level tsanawiyah. Pada tabel berikut ini akan disjikan kitab kuning yang menjadi rujukan yang berlaku di dua buah pesantren.

Tabel 1. Kitab rujukan marhalah i’dadiyah PP Assalafiyah Mlangi

Bidang pengajian

Marhalah I’daddiyah PP Assalafiyah (Ibtida’)

Halqoh i’dadiyah (Tsanawi)

Al Quran –tidak diajarkan– Membaca Juz 30 tartil
Fiqh Pesholatan  dan Safinah Taqrib
Nahwu Mukhtashor ‘Awamil + M.Jurumiyah Diktat
Sorof Amtsilati At-Tasrif al-Isytiqoqy
Ahlaq Alala Taisir al-Kholaq
Tajwid Tuhfatul athfal Hidayah as-Shibyan
Kitabah (baca Arab Pegon) Catatan Tidak diajarkan
Muhafadhoh Nadhom ‘Awamil Lafdhon wa Ma’nan Tidak diajarkan
Tauhid Aqidatul ‘awam Durus al-Aqo’id ad-Diniyyah
Qiroah (bacaan salat) Masuk pada materi idhofi Masuk pada materi inti
Idhofi Pesholatan lengkap, At-Ta’rifat fin-Nahwi Safinatunnajah
Tarikh Tidak diajarkan Khulashoh Nur al-Yaqin
Mafudlot Tidak diajarkan Al-Muntakhobat fi al-Mahfudlot
Khot/imla Tidak diajarkan Qowa’id al-Khoth al-Araby
Lughoh Tidak diajarkan Al-Lughoh at-Takhotub al-Mushowwaroh
Hadits Tidak diajarkan Matan al-Muqtathofat
Tafsir Tidak diajarkan Tafsir al Wajiz

Jika dilihat materi –materi pada tingkat i’dad  dan dibandingkan dengan Surat Edaran Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam Nomor : Dj. 11. 11/V/PP. 007/AZ/28/04, tanggal 9 Januari, 2004,  yang diperbarui dengan SE Dirjen Pendis No 940 Tahun 2008 terlihat beberapa materi i’dad PP assalafiyah ada yang levelnya lebih tinggi seperti materi tajwid yang menggunakan Tuhfatul athfal yang seharusnya ada pada tingkat tsanawiyah.

Pada halqoh ula PP al Munawwir sebagian besar materi-materi yang ada di tingkat ini hampir sama dengan tingkatan sebagaimana disebut dalam Surat edaran dirjen pendis No 940 tahun 2008.

Tingkat ibtida

Berikut ini akan disajikan tabel tentang kitab yang dijadikan rujukan pada tingkat ibtidaiyah yaitu marhala ula pada PP Assalafiyah Mlangi. Sedangkan pada PP al Munawwir tidak menyelenggarakan pendidikan pada tingkat ibtidaiyah.

Tabel 3. Kitab rujukan pada PP Assalafiyah Mlangi pada tingkat Marhalah Ula (Ibtida’)

No

Al Fanun

Kitab

1

Fiqih Duror Bahiyah, Taqrib, matan Taqrib, Durusul Fiqiyah juz 1-4, Mabadil Fiqiyah juz 1-4, Tahdhib Syarh  Abi Suja’, Inarotud Duja, Riyadul Badiah, Risalatul Mahidi, Muqoddimah Hadhromiyyah, fiqh manhaji, Matan Zubad.

2

Ushul Fiqih Waroqot, Mabadi Awaliyah, Assulam, Ushulul fiqih Abdul Wahab

3

Nahwu Nadhom awamil, Jurumiyah (lafadz, ma’na), Tashilu nailil Amaniy, Abin Naja, ‘Asmawi, Muhtashor jidan, AlMakudi, Kafrowi, Muttamimmah Jurumiyah, Fathu Robbil Bariyyah, Milkhatul I’rob,Tasywiqul Khollan, Kifayatul  Ash-hab, Mughni  Labib Pinggir, Tamrinut Tullab Pinggir, Risalah Salafiyyah finNahwi,

4

Shorof Amtsilah T, Amarity, Alfiyah, Nadzom Jazariyyah, Matnul Binak wal Asas, As-Syafiyah, ‘Unwanudh-dzuruf, Hallul Ma’qud, Al-Mathlub, Talkhishul Asas, Tarshif

5

Tauhid Jawahirul Kalamiyah, Syarh Nadzom ‘Aqidatul ‘Awam Syeih Mhmmd, Sullamud diyanah, Qothrul Ghoits, Durusul ‘Aqoid Juz 1- 4, As-Syaibaniy, Ummul Barohin, Tijan Durori, Nurudh-dholam, Ibnu Baijuri, Al Hud Hud

6

Tarikh Tarikhul Hawadits, Al Bayan wat Ta’rif, Durusut Tarikh 1-4, Khulashoh Nurul Yaqin  Juz 1-3

16

Tajwid Qowaidut Tajwid, Syarah Nadzom Jazariyah  Imam Zakariya

17

Akhlak Washoya, At-Tarbiyah, Taisirul Kholaq, Akhlaqul Banin wa Banat, Adabul ‘Alim wal Muta’alim Syaikh Hasyim Asy’ari, ‘Idzotun Nasyi-in

19

Ilmu Tafsir Ilmu Tafsir Asyty, Faidul Khobir Zamzami

20

Ilmu Hadits Minkhatul Mughits, Al Qowa’idul Asasiyah, Syarah Baiquniyah

21

Hadits Jawami’ul  Kalim, Miatu Hadits, Arbain Nawawi, Lubabul Hadits, Duror Al Muntatsiroh,Tarhib wa targhib

Kitab- kitab kuning yang menjadi rujukan di Pondok Pesantren Assalafiyah Mlangi, pada tingkat marhalah ula diatas jika dibandingkan dengan dengan kitab-kitab rujukan dalam Surat Edaran Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam Nomor : Dj. 11. 11/V/PP. 007/AZ/28/04, tanggal 9 Januari, 2004,  yang diperbarui dengan SE Dirjen Pendis No 940 Tahun 2008 maka hampir sama dengan tingkat Ibtidaiyah hanya saja memiliki variasi kitab yang diajarkan lebih banyak.

Tingkat Tsanawiyah

Berikut ini akan disajikan tabel mengenai kitab-kitab yang menjadi rujukan pada PP Assalafiyah dan PP Al Munawwir yang menyelenggrakan pendidikan pada tingkat tsanawiyah. PP assalafiyah diwakili oleh marhala wustho sedangkan  PP almunawwir diwakili oleh halqoh Ula, Tsaniya, dan Tsalisa

Tabel 4. Kitab Kuning Rujukan pada Marhalah wustho PP Assalafiyah dan halqoh PP Al Munawwir (tingkat Tsanawiyah)

Al Fanun

Kitab-Kitab Yang Menjadi Rujukan

PP Assalafiyyah Mlangi

PP Al Munawwir Krapyak

Al Quran

tidak diajarkan Juz 1-30

Fiqih

Matan Zubad, F Manhajiy,  Minhajul, Qowim, Syarah Tahrir, Kifayatul Ahyar, Nihayatuz Zain, Minhajut Tholibin, Tausyeh, Fathul Wahhab At-Taqrib, At-Tadzhib, Riyadussholihin, Safinatunnajah

Ahlak

Tidak diajarkan Washoya, Wadho’if al-Muta’allim, Risa-lah al-Mu’awwanah, ta’laim mutaalim

Ushul Fiqih

Al wajiz, Al Bayan, Al Wadhih, Lathoiful Isyarot, Lubbul Ushul, Annafakhot, Al Luma’ Al-Luma’

Qowidul Fiqih

M. Asybah, Qowaidul Fiqhiyah ,Faroidlul Bahiyyah, Mukhtasor Al-Asybah W, Risalah Shorf Cak Mat At Taqrib, ATTahdzib

Nahwu

Amarity, Taqirot Alfiyah, J Ma’nun, al Arrobiyah linnasyiin, Ibnu ‘Aqil, Dahlan, Makudiy Nahwu al wadlih, Qowa’id al-Lughoh al-Arobiyah

Shorof

As-Sa’diy, Marohil Arwah At-Tashrif al-Isytiqoqy, at-Tashrif ma’a ad-Dloma’ir,  Qowa’id al-I’lal,

Balaghoh

Arrobiyah baina yadaik, Husnus Siyaghoh,Balaghotul Wadikhah, Makhluf, Al Idhoh, Jawahirul Balaghoh Qowa’id al-Lughoh al-Arobiyah Diktat

Lughoh

Arobiyyah Baina Yadaik, Takrirot J. Maknun, Arobiyyah Lin Nasyiin, Al-Arobiyah li an-Nasyi’in, diktat, Al-Lughoh at-Takhotub Al-Mushowwaroh

Arudh

M. Syafiy, Al-‘Arudl wal Qowafiy Tidak diajarkan

Tauhid

Kifayatul Awam, Fatkhul Majid, Al Arba’in fi Ushulid din, Jauharut Tauhid, Husunul, Khamidiyyah, Al Iqtishod fil I’tiqod Kitab at-Tauhid min Tanwir al-Qulub, Durus al-Aqo’id ad-Diniyyah,

Tarikh

Nurul Yaqin, Tarikhul Khulafa’

Adabud dunya wad-Din, Minhajul Yaqin

Khulashoh Nur al-Yaqin, Tarikh al-Tasyri’ li Hudlori Bik, Tarikh al-Hadloroh

Tasawuf

Az- Zawajir, Is’adur Rofiq, Bidayatul hidayah, Sullam Taufiq, Ayyuhal Walad , M.Mu`minin, Nashoih Diniyah, Kifayatul Atqiya’ Tidak diajarkan

Ilmu Tafsir

Qowaidul Asasiyah fi Ulumil Qur’an, Zubdatul Itqon, At Takhbir Tidak diajarkan

Tafsir

Tafsir Jalalainn, Tanwirul Miqbas Al wajiz, Jalalain

Ilmu Hadits

Taisirul Mustholah,  Manhalul Latif, Rof’ul Astar Taisir al-Mushtholah al-Hadits

Hadits

Bulughul Marom, Jawahirul Bukhori

Riyadus solikhin *,Tajridus Shorih *

Sarah muqtathofat,

Falaq

Fatkhur Roifil Mannan, Badi’atul Mitsal, Durusul Falakiyah Ringkasan dari Kitab-kitab Falak, Fathu ar-Ro’uf al-Manan

Mantiq

Al-Baijuri, Idhokhul Mubham, Sullam  Malawiy, Al Qowa’idul Mantiqiyah Tidak diajarkan

Faroid

Mafaza , Sy. Rohbiyyah, Al Mawarits, Ahkamul Mawarits Matan ar-Rohbiyah

Qiroatul Qutub

Rohabiyah, Sullam, Fatkhul Mu’in, matan tahrir Tidak diajarkan

Muhafadhoh

Faroidhul Bahiyah, Nadhom Jauhar Maknun, Tidak diajarkan

Tajwid

Tidak diajarkan Tuhfah al-Athfal, Hidayah al-Mustafid,

Mufrodat

Tidak diajarkan Al-Barzanji Wa ad-Diba’i

Insya

Tidak diajarkan Kiatab al insya, Nawu wadlih (tamrin)

Furuq

Tidak diajarkan Kitab al-Furuq min al-Asybah wa an-Nadho’ir

Jika dibandingkan pada tingkatan yang sama (tingkat tsanawi) maka dapat dilihat sangat bervariasinya kitab yang diajarkan pada dua buah pondok pesantren tersebut pada bidang pengajian yang sama. Disatu sisi pada fanun (matapelajaran) diajarkan di ponpes tersebut tetapi disisi lain fanun tersebut tidak diajarkan di pondok pesantren lainnya. Contoh dalam fan ilmu mantiq yang diajarkan di PP Assalafiyah tetapi tidak diajarkan di PP Al Munawwir, begitu juga halnya ilmu tajwid yang diajarkan di PP Al Munawwir tetapi bukan menjadi fan pada marhalah wustho di PP Assalafiyah.

Namun demikian ada kesamaan kitab yang menjadi rujukan pada pengajaran di kedua pesantren tersebut pada bidang yang sama. Contohnya pada fan faroid kitab yang dijadikan rujukan menunjukan kesamaan yaitu kitab Ar Rohbiyah. Kitab falaq yaitu fathur rouf manan, kitab ilmu hadits yaitu mustholhul hadits dan masih banyak lagi yang menunjukan kesamaan diantra dua pesantren tersebut.

Jika dihubungkan dengan standarisasi dalam hal ini muadalah yang dilihat dari Surat Edaran Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam Nomor : Dj. 11. 11/V/PP. 007/AZ/28/04, tanggal 9 Januari, 2004,  yang diperbarui dengan SE Dirjen Pendis No 940 Tahun 2008 maka dua pesantren ini pada tingkatan marhalah ula pada PP Assalafiyah dan halqoh halqoh yang ada pada madrasah salafiyah PP Al Munawwir dapat dimasukan dalam kategori tingkat sekolah menengah pertama (Tsanawiyah).

Tingkatan Ulya (aliyah)

Pada dua buah pesantren tersebut di atas (PP Assalafiyah Mlangi dan PP Al Munawwir) hanya PP Assalafiyah saja yang menyelenggrakan pendidikan pada tingkat Ulya. Marhalah ulya pada PP Assalafiyah adalah tahasus. Tahasus yang dimaksudkan adalah penjurusan atau spesialisasi. Ada tiga penjurusan dalam marhalah ulya yaitu ilmu alat, ilmu AlQuran, dan ilmu Fiqh. Berikut ini akan disajikan tabel kitab kuning yang dijadikan rujukan pada marhalah ulya PP Assalafiyah Mlangi.

 Tabel 5. Kitab Rujukan pada Tingkat Marhalah ulya (Tahasus) PP Assalafiyah Mlangi

Tahasus ilmu alat

Tahasus ilmu Fiqh

Tahasus Al Quran

Khudhori F. Wahab Al Qur’an
L. Mashun U. Ar-Roziy Sirojul Qori’
Furuq fil Lughot Al-Asybah At Tibyan
Ilmu ‘Arudl Tasyri’Khudloriy Qurthubiy
Al Muzhir Hikmah Tasyri’ Ikhya’
Ihyak Rowai’ul Bayan
Ar Roddu Ibanatul Ahkam
Qowaidul imla Itqon,Manahil Irfan
Ihya’
Mahalliy, Muhadz-dzab
U. Sarohsiy, U. Jash-shosh
Sy.Q. Fiqh 1, Sy.Q. Fiqh 2
Syari’atullohi Al-Kholidah
Al-Kayyal Harrosiy,
Ahkamul Qur`an
Bukhoriy,
Subulussalam, K. ‘Allam
Indal Muhaditsin
Manahijul Mufasirin
Fiqh: Makhali, Muhadzdzab, Nihayatul Muhtaj. Ushul Fiqh: Al Ibhaj fil Intihaj Ushulul Fiqhi, Wahbah Azzh, Ushulul Fiqhi Arroziy, Sullamur Rokhamut, Arrisalah,Al Ihkam lil ‘Amidi. (Qowaidul fiqh): Syr Qowaidul Fiqhiyah ,Al Asybah Ibnu Nujaim, Al Asybah Assuyuti. (Nahwu): Khudhoriy, Ibnu Khamdun, Ash Shuban,Al Asybah Wan Nadzoir Asyt. (Balaghoh): Syarh ‘Uqudul Juman, Mursyidi. (Tauhid): Ad Dasuqi, Durrul Farid, Al Milal wan Nukhal. (Tarikh): Tarikh Tsaqofah, Fiqhus siroh. (Tajwid): Al Maq-sod, Nihayatul Qoulil Mufid. (Tasawuf): Ihya Ulumiddin. (ilmu Tafsir): Mabakhits fi Ulumil Qur’an,  Manna’ Qoththon, Al Itqon, Manahilul ‘Irfan. (Tafsir Ahkam): Rowa-I’ul Bayan, Al Kayyal Harosi, Ahkamul Quran (Syafi’iy), Ahkamul Quran (Al Jashshosh). (Ilmu Hadits): Dlowabith Jarh wat Ta’ dil, Qowa’idut Tahdits, Asnal Matholib. (Hadits): Bukhori. (Hadits Ahkam): Ibanatul Ahkam, Subulus Salam, Kifayatul ‘Allam, Al-Muwattho’,Nailul Author

Dari tabel di atas dapat terlihat bahawa betapa banyaknya variasi kitab-kitab kuning yang dijadikan rujukan dalam proses pembelajaran pada marhalah ulya. Namun demikian jika dihubungkan dengan standarisasi dalam hal ini dimuadalahkan sebagaimana dilihat dari Surat Edaran Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam Nomor : Dj. 11. 11/V/PP. 007/AZ/28/04, tanggal 9 Januari, 2004,  yang diperbarui dengan SE Dirjen Pendis No 940 Tahun 2008 maka dua pesantren ini pada tingkatan marhalah ulyaa pada PP Assalafiyah dapat dimasukan dalam kategori tingkat sekolah menengah Atas (Aliyah) dikarenakan sebagian kitab-kitab yang diajarkan pada pondok pesantren assalafiyah pada marhalah ulya terdapat dalam surat edaran tersebut.

2. Teknik Menentukan Standar Kitab Kuning

Dalam menentukan kitab kuning yang menjadi acuan, ada kesamaan antara dua buah pesantren tersebut bahkan mungkin diseluruh pondok pesantren salaf di indonesia. Otoritas kiai dalam hal ini pengasuh utama pondok pesantren  menentukan kitab apa sajakah yang akan diajarkan di pesantren masing-masing. Biasanya pengasuh utama dalam menentukan standar kitab kuning yang mejadi rujukan di pesantrennnya mengikuti pondok pesantren tempat pengasuh tersebut menimba ilmu. Sebagai contoh pada PP Assalafiyah Mlangi dimana Kiai Maksudi sebagai pengasuh utamanya. Beliau menyusun kitab rujukan mengikuti pesantren tempat dimana ia pernah nyantri yaitu PP. Tegalrejo Magelang baik jenis kitab sampai dengan urutan kitab yang dipelajari. Begitu juga yang terjadi pada PP al Munawwir Krapyak.

Namun demikian pengasuh pondok pesantren bukanlah sosok yang tidak peka perubahan. Dengan kondisi input santri dengan beragam kemampuan menjadikan kurikulum di pesantren ikut berubah. Perubahan kurikulum tersebut didasarkan atas masukan assatidz (dewan guru) melihat kenyataan kondisi yang ada yang mentut perubahan harus terjadi.

Sebagai contoh pada PP Al Munawwir Krapayak dengan madrasah salafiyahnya pernah mengalami perubahan kurikulum karena melihat input santri yang dianggap belum sesuai dengan kualifikasi pondok. Para assatidz melihat jika tidak dilakukan perubahan kurikulum maka akan mengakibatkan proses pendidikan di pesantren terancam tidak berhasil. Maka atas masukan para assatidz dan pertimbangan kiai maka perubahan kurikulm perlu dilakukan.

Perubahan kurikulum yang dimaksud adalah dibukanya kelas persiapan (halqoh i’dadiyah) sebelum memasuki jenjang pendidikan utama. Pada awal berdiri madrasah salafiyah di PP Al Munawwir Krapyak hanya terdiri darri 3 halqoh saja yaitu ula, tsaniyah dan tsalisa. Akan tetapi seiring berjalannya waktu kualitas intpu santri yang menuntut ilmu di ponpes tersebut mengalami penurunan. Para santri tidak bisa mengikuti pelajaran pada halqoh tingkat dasar atau ula. Para assatidz yang menangani langsung proses pendidikan kemudian melakukan rapat dan masukan kepada pengasuh pesantren dan atas pertimbangan dan persetujuan pengasuh maka dibukalah kelas persiapan (i’dadiyah).

Begitu juga pada PP Assalafiyah yang sebelumnya tidak menggunakan tingkat, jenjang  atau level pendidikan yang disebut marhalah. Sejak tahun 1985, dilakukan perubahan dengan menggunakan tingkatan yang disebut dengan markhalah. Penetapan ini dilakukan oleh para pengasuh dengan persetujuan Kyai, dengan pertimbangan agar distribusi mata pelajaran bisa tertata, sehingga santri lebih disiplin, setiap tahapan bisa terkontrol perkembangannya. Namun demekian kitab kuning yang menjadi rujukan masih tetap.  Demikian juga dengan penetapan kitab kuning yang menjadi rujukan setiap tingkatan, tetap mengacu pada kitab kuning yang dipakai rujukan pada waktu sebelumnya.

3.Orientasi Kitab Kuning

Sebagaimana pesantren pada umumnya, Pesantren Assalafiyyah dan PP Al Munawwir bercorak Ahlussunnah wal Jamaah. Menurut Imam Muhammad bin Muhammad Al Husni, dalam Abbas mengatakan bahwa apabila disebut Ahlussunnah wal Jamaah, maka yang dimaksud adalah orang –orang yang mengikuti rumusan, atau faham Asy’ri dan faham Abu Musa Al maturidi. Faham ini merupakan faham keagamaan yang mengedepankan tawasuts, tasamuh, dan tawazun (Abbas, Syirojuddin, 2006).

4. Standar Penguasaan Kitab Kuning

Bentuk-bentuk penguasaaan kitab kuning di pesantren salaf dapat dilihat dari indikator keberhasilan pembelajaran. Indikator pembelajaran yang dimaksud adalah kurikulum, metode pembelajaran dan evaluasi. Kurikulum sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa pondok pesantren telah menyusun secara tertib materi-materi pelajaran yang akan diberikan berdasarkan tingkatan-tingkatan kitab yang disesuaikan dengan jenjang , halqoh, marhalah dari yang paling mudah kearah yang sulit. Dengan tertibnya penyusunan kurikulum kitab maka akan mempermudah mentransfer pengetahuan kepada santri pondok pesantren.

Indikator penguasaan kitab kuning berikutnya adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang dilakukan pada PP Assalafiyah Mlangi dan PP al Munawwir Krapyak hampir sama yaitu Sorogan dan Bandongan, sedangkan pada PP al Munawwir ditambah sebuah metode lagi yaitu Musyafahah untuk materi pengkajian AlQuran. Ketiga metode tersebut dapat dilakukan baik secara klasikal maupun non klasikal.

Indikator keberhasilan penguasaan kitab kuning berikutnya adalah evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran pada PP Assalafiyah Mlangi dan PP Al Munawir Krapyak dilakukan dalam beberapa tahap seperti ujian lisan (Munaqosah), tertulis (kitabah) dan ujian Praktik. Selain hal tersebut pada PP asslafiyah juga menerapkan sistem ujian berupa hafalan (muhafadhoh). Adapun pelaksanaannya, bisa dilakukan harian, mingguan, bulanan, semester, dan akhir tahun, serta  akhir.

Sistem evaluasi terdiri dari evaluasi pokok dan pelengkap. Evaluasi Pokok ialah ujian Semester dan ujian mid smester. Sedangkan evaluasi pelengkap meliputi Tamrin harian, Tamrin akhir fasal, bab dan kitab, serta Penugasan.

Bentuk bentuk ujian yang dipakai sebagaimana telah  disebutkan diatas, merupakan bentuk ujian yang dipakai oleh mayoritas pondok pesantren. Adapun penerapannya adalah sebagai berikut.

-          Muhafadhoh /Hafalan (PP Assalafiyah Mlangi)

Tes dalam bentuk muhafadzoh digunakan untuk mata pengajian Muhafadzoh dan Juz ‘Amma. Sistem Ujian /tes dengan cara materi dihapalkan semua secara urut dari awal hingga selesai Peserta diberi nilai sesuai dengan prosentase perolehan bait yang disetorkan, bila disetorkan dengan lancar. Penilaian diserahkan pada kebijaksanaan penguji, berdasar ketepatan, kecepatan, kefasihan dan lain-lain. Santri dianggap lancar apabila dalam menyetorkan hafalannya tidak melakukan kesalahan.

-          Munaqosah (PP Assalafiyah dan PP Al Munawwir)

Tes dalam bentuk munaqosah untuk mata pengajian Qiroatul kutub dan karya tulis di setiap akhir markhalah atau halqoh. Tes ini dilakukan dengan cara peserta diuji oleh penguji secara bersamaan dalam waktu yang telah ditentukan. Intyi penilaiannya adalah Bacaan, Makna, Murod, Tatbiq dan Analisa. Tes dalam bentuk lesan juga digunakan pada waktu tes harian dan mingguan.

-          Kitabah

Tes dalam bentuk kitabah dipakai untuk semua mata pengajian selain Qiroatul kutub dan muhafadzoh. Materi pelajaran yang diteskan adalah materi pelajaran yang telah disampaikan Jumlah soal telah ditentukan oleh masing-masing penyusun soal ujian. Naskah ujian menggunakan bahasa Araba (untuk PP Assalafiyah soal ujian dapat menggunakan bahasa Indonesia) dan berbentuk essay.

-          Praktek

            Ujian dalam bentuk praktek , mata pengajian yang diujikan  hanya khusus  Al-Qur’an. Santri  dianggap sudah menguasai kitab.  Dengan ujian praktik maka seorang ustadz dapat melihat apakah santri telah dapat menguasi kitab atau belum. Jika ujian praktik berhasil maka hal tersebut sebagai indikator santri dapat membaca kitab kuning lainnya meskipun belum pernah diajarkan sebelumnya.

4. Sistem penilaian dan kelulusan

Sistem penilaian merupakan bentuk kualitas penguasaan kitab kuning oleh para santri di pondok pesantren. Sistem penilaian yang dilakukan pada pondok pesantren assalafiyah dan al munawwir liporkan dalam bentuk raport santri. Namun demikian dalam menilai kualitas hasil belajar santri dua buah pondok pesantren tersebut menerapkan sistem penilian yang berbeda. Perbedaan tersebut dikarenakan kebijaksanaan pada masing-masing pengasuh pondok.

Sistem penilaian yang dilakukan pada PP al Munawwir memerlukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh santri. Syarat tersbut adalah santri harus mengikuti seluruh kurikulum mata pengajian selama satu tahun dengan presensi minimal 80 persen kehadiran. Jika sayarat tersebut telah dilakukan maka santri boleh mengikuti ujian. Adapun nilai yang diberikan kepada santri diberikan penguji dalam rentang nilai 1- 10 yang kemudian di kuatkan dengan kualitas huruf A-E. Adapun sitem kenaikan tingkat dan kelulusan syarat mutlak adalah tidak ada nilai mati dalam mata pelajaran ulumuddin dan bahasa Arab.

Sistem penilaian yang diterapkan olehPP assalafiyah didasarkan pada nilai rata-rata pada srtiap bentuk ujian yang diberikan. Bentuk penilaian tersebut adalah muhafadzoh, kitabah dan munaqosah. Sistem penilaian pada muhafadzoh misalnya, peserta diberi nilai sesuai dengan prosentase perolehan bait yang disetorkan, bila disetorkan dengan lancar. Misal dapat 85 % maka nilainya 85. Bila tidak lancar, maka nilainya dikurangi 5 %. Nilai yang ada di antara prosentase yang terlampir, diserahkan pada kebijaksanaan penguji, berdasar ketepatan, kecepatan, kefasihan dan lain-lain. Santri dianggap lancar apabila dalam menyetorkan hafalannya tidak melakukan kesalahan tidak lebih dari 15 kali (untuk hafalan nadhom) atau tidak lebih dari 12 kali (untuk hafalan jurumiyah).Santri dianggap tidak lancar apabila dalam menyetorkan hafalannya telah melakukan kesalahan lebih dari 15 kali ( untuk hafalan nadhom) atau lebih dari 12 kali (untuk hafalan jurumiyah). Tes dalam bentuk munaqosah untuk mata pengajian Qiroatul kutub dan karya tulis di setiap akhir markhalah. Tes ini dilakukan dengan cara peserta diuji oleh dua penguji secara bersamaan selama minimal 30 menit Kompetensi yang dinilai : Bacaan, Makna, Murod, Tatbiq dan Analisa. Tes dalam bentuk lesan juga digunakan pada waktu tes harian dan mingguan. Tes dalam bentuk kitabah dipakai untuk semua mata pengajian selain Qiroatul kutub dan mukhafadzoh. Materi pelajaran yang diteskan adalah materi pelajaran yang telah disampaikan Jumlah soal sebanyak 100 butir (50 Teori, 30 Praktek dan 20 Analisa), berbentuk essay dengan menggunakan bahasa Indonesia atau arab. Ujian bersifat Close Book untuk semua mata pengajian, kecuali : Ilmu Falak dan Tafsir.

PENUTUP

Simpulan

Deskripsi temuan penelitian di atas melahirkan fakta betapa bervariasinya kurikulum, model penentuan kitab rujukan , orientasi, serta sistem penilaian standarisasi penguasaaan kitab kuning pada dua buah pesantren di Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun demikian dari penelitian pada duabuah pesantren tersebut ada lima kesimpulan yang dapat diberikan. Simpulan dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Terkait dengan Kitab kuning yang menjadi rujukan di Pesantren Assalafiyyah, jika dilihat dari surat Dirjen Kelembagaan Agama Islam, maka tingkatannya bisa dikatakan sama, hanya saja kitab kuning yang dipelajari lebih bervariasi
  2. Dalam menetapkan standar kitab kuning yang menjadi rujukan, masing-masing pondok ditentukan oleh pengasuh sebagai tokoh sentral atas masukan assatidz. Kiai sebagai tokoh sentral merujuk pondok pesantren di mana kyai dulu menuntut ilmu.
  3. Orientasi Pondok Pesantren Assalfiyyah dan PP Al Munawwir, jika dilihat dari kitab kuning yang jadi rujukan, maka pondok pesantren ini berorientasi pada ilmu fiqih, Quran. Pada PP Assalafiyah juga merupakan pondok pesantren yang mempelajarai kajian tasawuf dengan imam Ghazali sebagai panutannya.
  4. Santri  dinyatakan  sudah menguasai kitab jika telah memenuhi sayarat syarat yang telah ditentukan saperti syarat ilmu alat, dan menempuh evaluasi hasil belajar dalam rangka mengetahui kualitas penguasaan kitab para santri.

-  Rekomendasi

Dari temuan hasil penelitian di atas maka rekomendasi yang bisa diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Kepada pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan salafiyah murni hendaknya melakukan koordinasi dengan sesama pondok pesantren dan kementerian agama untuk manyamakan visi misi dan presepsi tentang standarisasi pendidikan kitab kuning di pesantren.
  2. Kepada Kementerian agama yang menangani urusan pondok pesantren hendaknya segera melakukan standarisasi pendidikan pada madrasah salafiyah sehingga ijazah mereka diharapkan setara dengan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah.
  3. Kepada Badan litbang agama dan balai litbang agama hendaknya melakukan penelitian lanjutan kepada madrasah madrasah salafiyah yang lain serta ma’had aliy (perguruan tinggi) untuk kemudian mengkalisfikasikan mereka ke dalam kategori pada penyetaraan pendidikan formal yang diusung pemerintah
  4. Pemerintah cq Kementerian Agama agar memberikan pengakuan legal formal kepada pesantren salaf, dan memberikan pengakuan kesetaraan lulusan serta  memberikan legalisasi ijasah kepada santri yang telah menyelesaikan studinya.

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 26, 2011 in Uncategorized

 

7 responses to “Penguasaan Kitab Kuning di Pesantren Salaf

  1. hasan

    Juli 22, 2012 at 8:29 pm

    asslm… ust ,mohon kitab sirojul qorrinya &terjemahnya

     
    • aamwibowo

      Juli 23, 2012 at 11:10 am

      sayang sekali yang soft copy saya ndak punya

       
  2. tokobukuhebat

    Mei 31, 2013 at 1:28 pm

    ustad, saya mau tau alamatnya pesantren, bisa buat mahasiswa ngga ya?

     
    • aamwibowo

      Juni 3, 2013 at 11:26 am

      pondok pesantren Al Munawir krapyak beralamat di Jl Kh Ali maksum Krapyak Bantul Yogyakarta banyak juga mahasiswa yang mondok disana ada yang dari UGM, UII, UNY dll. Kalo Ponpes Mlangi beralamat di Desa Mlangi Sleman Yogyakarta. jika ke Krapyak bisa saja menghubungi Ustdz Ibadurahman atau Nuril

       
    • aamwibowo

      Maret 6, 2014 at 6:32 am

      saya bukan ustadz dik, saya hanya peneliti biasa. banyak juga mahasiswa yang ikut mondok disana, UGM, UNY, UIN dsb.

       
  3. basuki rahmad

    Juli 17, 2014 at 4:20 am

    assalaamu’alaikum wr wlb saya adalah orang tua yang ingin mengajar anak-anak saya dengan kitab-kitab yang dipelajari di pp almunawwir untuk tingkat ula dapatkah saya membeli kitab-kitab sebagimana yang terdapat dalam penjelasan dalam tulisan ini demikian lebih kurang mohon maaf wassalam basuki rahmad riau , 082389475079

     
  4. a.m. wibowo

    Juli 21, 2014 at 10:57 am

    wa alaikum salam, bapak Basuki Rahmat yang berbahagia, senang sekali vberkenalan dengan anda. untuk kitab-kitab tersebut bapak bisa konfirmasi kepada ust. Ibadurrohman melalui http://facebook.com/ibadurrohman.bachmid atau 0812-3397-8211. terimakasih

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: